Institut Teknologi Sawit Indonesia Gelar Sekolah Lapang Iklim (SLI) Operasional Kopi

it
itsi
Administrator
Jan 3, 2023 0 views 0 komentar

Medan, ITSI – Institut Teknologi Sawit Indonesia gelar Sekolah Lapang Iklim Operasional Kopi kolaborasi BMKG, Holding Perkebunan Nusantara, Dinas Perkebunan Provinsi Sumut, Polbangtan Medan, dan Puslitkoka di Silangit, Kabupaten Tapanuli Utara, Sabtu (17/12/2022). Pakar dan ahli kopi Indonesia Prof. Dr. Ir. Surip Mawardi, S.U sebagai narasumber Sekolah Lapang Iklim Operasional Kopi menjelaskan, perlunya mengintegrasikan dan memanfaatkan data iklim untuk mengembangkan pertanian kopi di Indonesia, karena iklim dan kondisi cuaca sangat mempengaruhi produktivitas pertanian kopi.

SLI Operasional Kopi 2022 diikuti puluhan peserta dari berbagai kalangan diantaranya akademisi, penelitian, praktisi kopi, pelaku UMKM bidang kopi, pengusaha kopi, eksportir kopi dan para pemerhati kopi lainnya. Kegiatan ini diawali dengan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) di Hotel Grand Mercure Medan, Jumat (16/12/2022) dengan tema “Adaptasi Sektoral Perubahan Iklim Untuk Mendukung Peningkatan Produktivitas Kebun Kopi Petani Melalui Pemanfaatan Informasi Iklim” dan dilanjutkan keberangkatan menuju kebun kopi yang dikelola Prof. Dr. Ir. Surip Mawardi di Silangit, Kabupaten Tapanuli Utara.

Prof. Dr. Ir. Surip Mawardi merupakan pakar dan ahli kopi Indonesia yang juga pensiunan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka), sekarang fokus menjadi petani kopi di Silangit dan mengembangkan perkebunan kopi juga sebagai wahana edukasi dan pelatihan tentang kopi yang baik dan berkualitas. Di lahan seluas 3,7 hektare di Silangit, Prof. Dr. Ir. Surip Mawardi mengembangkan berbagai jenis kopi dengan sejumlah teknik dan metode pengembangan kopi yang disesuaikan kondisi lahan dan iklim. Alhasil beliau berhasil menumbhkan berbagai kopi yang berkualitas.

Terkait tema program, yakni mengintegrasikan data iklim dengan pertanian kopi, Prof. Dr. Ir. Surip Mawardi menjelaskan SLI ini sangatlah penting karena para pelaku pertanian kopi juga harus tahu perkembangan iklim secara baik sehingga bisa meningkatkan produksi kopi. Kendati demikian, ia menyimpulkan saat ini integrasi data iklim dengan pertanian kopi belum optimal walau sudah dimulai. “Memang sekarang secara tidak langsung sudah ada. Petani dituntut mulai memahami adanya pengaruh iklim terhadap budidaya kopi. Informasi dan data terkait iklim memang sudah dimulai dimanfaatkan dalam budaya kopi, namun belum intensif, sehingga hasilnya belum maksimal,” ungkap Prof. Dr. Ir. Surip Mawardi.

Prof. Dr. Ir. Surip Mawardi mengambil contoh negara Brazil yang data iklimya begitu intensif mendukung pertanian, sehingga meningkatkan produksi kopi di negara tersebut. Iklim begitu mempengaruhi pertanian kopi misalnya dari data curah hujan dan lainnya, pertanian bisa beradaptasi memitigasi ancaman dalam produktivitas kopi terkait dengan kondisi iklim yang berubah-ubah, iklim ekstrem dan semacamnya. Prof. Dr. Ir. Surip Mawardi berharap, BMKG bekerja sama dengan berbagai pihak dan informasi terkait iklim agar lebih terbuka, sehingga bisa berimplikasi terhadap pertanian khususnya kopi.

Rektor Institut Teknologi Sawit Indonesia (ITSI) Bapak Aries Sukariawan, SP., MP menyampaikan apresiasi terhadap program Sekolah Lapang Iklim (SLI) Operasional Kopi yang berkolaborasi dengan BMKG, Holding Perkebunan Nusantara, Dinas Perkebunan Provinsi Sumut, Polbangtan Medan, dan Puslitkoka. Dengan adanya program SLI Operasional Kopi ini, para peserta dapat mengetahui tentang teknik pertanian kopi hingga pengolahan kopi di pabrik. Agenda kegiatan SLI Operasional Kopi dilanjutkan dengan melakukan kunjungan industri ke PT SSE yang merupakan perusahaan kopi yang fokus pada ekspor kopi ke luar negeri.